Dari Cikakak untuk Nusantara: UMKM Lokal Hadirkan Jaring Ikan dan Anyaman Bambu Siap Saingi Produk Global

News, Sukabumi10705 Views

tigasrikandi.com – Sukabumi, Di tengah gelombang modernisasi yang kadang mengikis nilai-nilai lokal, Desa Cikakak, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi justru tampil beda. Desa pesisir yang dulunya dikenal sebagai titik nelayan tradisional kini menampakkan wajah baru sebagai produsen peralatan perikanan dan kerajinan bambu unggulan yang mulai dilirik pasar luar daerah.

Melalui tangan-tangan terampil warga, dua produk khas yang kini berkembang pesat di desa ini adalah jala tebar untuk perikanan dan kerajinan anyaman bambu multifungsi. Keduanya tidak hanya menonjol karena fungsinya, tapi juga karena filosofi lokal yang menyatu dalam desain, teknik, dan materialnya.

“Kami tidak ingin sekadar menjual produk, tapi menyampaikan cerita. Setiap jala yang kami buat adalah cerminan pengalaman nelayan lokal, dan setiap anyaman bambu adalah warisan teknik turun-temurun,” ujar Yayan Suhendar, pelaku UMKM muda Cikakak.

Produk jala/jaring ikan buatan UMKM Cikakak dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan nelayan dan pelaku usaha perikanan modern, dengan kekuatan tali dan desain simpul yang disesuaikan medan laut selatan. Material berkualitas tinggi serta ketelitian dalam produksi menjadikan produk ini tahan lama, ringan, dan presisi saat ditebar—fitur yang jarang ditemukan pada produk pabrikan massal.

Sementara itu, kerajinan bambu dari desa ini tak kalah memikat. Mulai dari bakul nasi, besek kemasan, hingga hiasan interior berbasis bambu, semuanya dibuat secara manual dengan teknik tradisional yang diwariskan lintas generasi. Meski berbasis budaya, bentuk dan fungsi kerajinan bambu Cikakak sudah menyesuaikan kebutuhan pasar urban dan industri kuliner.

Yang menarik, UMKM Cikakak juga mulai masuk ke ranah custom design dan e-commerce. Pelanggan bisa memesan jaring dengan ukuran dan bahan khusus, atau keranjang bambu dengan motif dan branding usaha mereka. Inilah langkah maju yang menunjukkan bahwa produk lokal tidak lagi hanya untuk lokal.

“Kami ingin produk kami digunakan nelayan di Sumatera, dipajang di kafe di Jakarta, bahkan bisa masuk pasar ekspor. Kenapa tidak?” ujar Euis Rohayati, pengrajin anyaman yang kini bekerja sama dengan pelaku marketplace nasional.

Dengan dukungan dari pemerintah desa, BUMDes, dan komunitas pemuda kreatif, Desa Cikakak menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi bisa dibangun dari akar budaya lokal yang diperkuat dengan inovasi.

Lebih dari sekadar usaha rumahan, UMKM di Desa Cikakak kini menjadi simbol kebangkitan ekonomi desa berbasis maritim dan kearifan tradisional. Sebuah langkah kecil dari pesisir selatan Sukabumi yang kini menapaki panggung nasional, bahkan internasional.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *