tigasrikandi.com – Sukabumi , Nasib pilu menimpa delapan orang perantau asal Jawa Barat dan Banten. Berniat mengadu nasib ke Sulawesi Utara (Sulut), mereka justru telantar selama sepekan terakhir.
Janji upah besar dari pekerjaan penggalian lubang tambang berakhir zonk.
Tak hanya itu, mereka bahkan sempat tertipu tiket pesawat bodong saat hendak pulang ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran.
Perwakilan warga, Dede Diana, menceritakan awal mula petaka tersebut. Rombongan yang mayoritas berasal dari wilayah Simpenan dan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi ini berangkat pada Juli 2025 lalu setelah diajak oleh seseorang asal Tasikmalaya.
“Awalnya diajak teman ke teman. Janjinya kerja di lobang (tambang) di wilayah Dumoga Selatan. Katanya per meter dibayar Rp 2,5 juta, tapi kenyataannya cuma Rp 1 juta,” kata Dede melalui sambungan telepon, Rabu (1/4/2026).
Dede mengungkapkan, setibanya di lokasi, kesepakatan manis itu menguap begitu saja. Upah mereka dipotong sepihak. Tak hanya soal upah, urusan logistik yang awalnya dijanjikan gratis pun mendadak berubah menjadi utang yang memotong penghasilan mereka.
“Selama 7 bulan kerja, kirim ke rumah juga nggak stabil. Paling cuma bisa kirim Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Hitung-hitungannya habis buat makan yang ternyata jadi utang. Jadi kerja itu tidak menghasilkan, tidak sesuai janji,” keluhnya.
Kena Tipu Tiket Pesawat ‘Diskon’ 40%
Niat hati ingin pulang kampung untuk merayakan Lebaran di Sukabumi, delapan warga ini justru ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Bermodalkan sisa upah yang hanya Rp 1,5 juta per orang, mereka tergiur iklan tiket pesawat murah dengan diskon 40%
di sebuah aplikasi.
Nahas, tiket seharga total belasan juta rupiah yang dibayar via dompet digital itu ternyata palsu. Mereka baru menyadari telah tertipu saat hendak melakukan proses lapor diri (check-in) di bandara pada Jumat pekan lalu.
“Pas mau check-in jam 5 sore, ternyata nggak bisa. Kami bingung, akhirnya lapor ke Polsek Bandara. Benar-benar kena tipu tiket bodong,” tutur Dede.
Mereka yang telantar di Sulawesi Utara masing-masing bernama Bian, Dian, Dede, Rahmat, Rahmadi, Ade, Asep, dan Elvis.
Sudah sepekan terakhir para warga ini hidup luntang-lantung di wilayah Bitung. Mereka sempat berpindah dari satu kantor polisi ke kantor polisi lainnya untuk meminta bantuan pemulangan, namun merasa hanya dioper ke sana kemari. Untuk urusan perut, mereka terpaksa mengandalkan sisa uang kiriman keluarga dari kampung.
“Sudah 7 hari terlantar. Buat makan, ada yang minta kiriman dari rumah Rp 50 ribu buat makan bareng-bareng. Kami sempat lapor juga ke beberapa pihak tapi kayak bola dilempar-lempar,” ungkapnya.
Kini, para warga yang didominasi asal Sukabumi dan perbatasan Bogor ini berharap pemerintah daerah segera merealisasikan janji pemulangan. Dede menyebut sudah ada komunikasi dengan pihak Bupati Sukabumi dan dijanjikan akan segera dipulangkan dalam waktu dekat.
“Tadi pagi sudah ada kabar (dari Bupati), mudah-mudahan secepatnya kami bisa pulang,” pungkasnya.
Sumber: Detik
#bapaabdi
#sukabumimubarakah
#asjapasepjapar
#asepjaparandreas
#lanjutkankankebaikan
#BupatiSukabumiAsepJapar








